M. Rifai, Difabel yang Tekun Berjuang Jadi Psikolog

inpirasicendekia.com, MALANG – Tidak sedikit cerita, mahasiswa yang akhirnya gagal menyelesaikan kuliahnya. Banyak pula, orang tidak beruntung yang sulit mengenyam pendidikan selama hidupnya.

Tidak demikian halnya bagi Muhammad Rifai, pemuda asal Dusun Rejosari, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Rifai termasuk orang beruntung dalam ketidakberuntungannya. Sejak kecil, ia termasuk anak berkebutuhan khusus dengan menyandang ketidaknomalan pada penglihatan (difabel tunan netra). Tetapi, kini ia punya kelebihan dan kemampuan tambahan di bidang psikologi.

Kemampuan psikologi ini didapatkan Rifai selama berkuliah di sebuah kampus swasta di Kabupaten Malang. Ya, memiliki kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Begitulah kiranya yang dipikirkan oleh Muhammad Rifa’i, yang kini mahasiswa jurusan psikologi Universitas Islam Raden Rahmat Malang.

Selasa (15/9/2020) lalu, ia dinyatakan telah berhasil menyelesaikan sidang skripsinya di Universitas Islam Raden Rahmat Malang. Sebagai penyandang tuna netra, tentu tidak mudah baginya untuk melakukan penelitian. Namun ia tak putus asa. Ia menyelesaikan skripsinya selama kurang lebih sembilan bulan.

“Rifa’i sangat luar biasa dalam prosesnya. Dengan keterbatasannya, dia mampu menyelesaikan tahapan penyusunan laporan penelitian sampai mempertanggungjawabkan di hadapan penguji dengan lugas,” ungkap Abdul Latif, SPsi, MSi, salah satu penguji skripsi, yang juga menjabat Ketua Program Studi Psikologi di Universitas Islam Raden Rahmat Malang.

Rifa’i sendiri mengaku harus menyusun dan mengetik seluruh skripsinya sendiri. Namun demikian, ada beberapa bagian pengeditan yang harus dibantu temannya, karena pembaca layar (screen reader) di laptopnya tidak bisa membacakan dengan sempurna.

“Kalau untuk perkuliahan, kesulitannya hanya di menghitung menggunakan SPSS, karena saya belum menemukan untuk yang memudahkan tuna netra” ujarnya.

Motivasi Rifa’i untuk menyelesaikan kuliah adalah keinginannya untuk membahagiakan orang tua; almarhum ayah dan ibu yang selama ini telah merawatnya. Ia juga ingin membuktikan, bahwa keterbatasan tidak menghalanginya untuk bisa maju bahkan meraih kesempatan sama dengan yang lain.

Berkat keyakinan dan usahanya, ia berhasil menyelesaikan skripsi dengan judul “Gambaran Penerimaan Diri Individu di DPC Persatuan Tuna Netra Indonesia Kabupaten Blitar”.

Dalam kesehariannya, Rifa’i juga menjalankan sebuah klinik terapi pijat di rumahnya. Hal ini ia lakukan agar bisa membantu sang ibu dan membiayai kuliahnya sendiri.

Kedepannya, ia berkeinginan untuk menjadi seorang konsultan. Sembari menjalankan terapi pijatnya, ia akan mencoba mempraktikkan ilmu psikologi yang sudah ia dapat di kampus selama ini.

“Karena penyakit itu tidak hanya masalah fisik, tetapi juga psikis” pungkasnya. (*)

Penulis: Ayu Azzani Nur Ramadani
Editor: Choirul Amin

Berita Terkait