ads

Literasi Pemilih, Mengamankan Pemilu dan Mencegah Keterpecahan Publik

  • Save

Inspirasicendekia.com, MALANG – Keterbelahan masyarakat akibat keberpihakan dan kepentingan politik sangat rentan berdampak perpecahan. Literasi pemilih (voter literacy) sangat penting dilakukan oleh semua stakeholder.

“Voter literasi secara masif bisa mengantisipasi efek buruk medsos. Saat ini, cara berpikir netijen sangat dipengaruhi media (medsos),” kata Wawan Sobari, MA PhD, akademisi FISIP UB, dalam acara Diskusi Peran Stakeholder dalam Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019 yang digelar di kantor Bawaslu Kabupaten Malang, Kamis (7/3/2019) siang.

Perlunya literasi pemilih ini, lanjutnya, karena fanatisme dan resistensi antarpendukung peserta pemilu (pilpres) sudah sangat kuat.

  • Save

“Saking sudah terkooptasinya (pikiran pemilih), apa yang salah pada kelompok lawan diamini begitu saja. (Informasi) yang benar pada yang calon didukung dipercaya mati-matian,” ungkapnya.

Memahamkan pemilih ini, kata Wawan, paling efektif dilakukan pihak-pihak berpengaruh yang bisa mencerahkan opini masyarakat. Seperti tokoh masyarakat di kalangan akar rumput, dan bukan penyelenggara pemilu.

“Masyarakat kita sudah terbelah, jangan sampai meluas berpotensi distrust (ketidakpercayaan) pada penyelenggara pemilu. Isu-isu sekecil apapun yang tidak benar harus diluruskan,” tegas Wawan Sobari.

Diskusi ini juga menghadirkan panelis lain, seperti Wahyudi Wunarjo MSi dari UMM dan anggota Bawaslu Jawa Timur Totok Hariyono.

Dalam presentasinya, Wahyudi mengungkapkan pemilu partisipatif memang harus banyak melibatkan kampus atau civil society.

“Pengawasan pemilu harus memperluas jaringan yang melibatkan masyarakat sipil. Selama ini (partisipasi masyarakat) belum kentara, tidak menonjol. Masyarakat masih kurang greget, seolah pemilu hanya gawe penyelenggara,” tegasnya.

Yang paling perlu diawasi, lanjutnya, adalah kampanye terselubung di forum ilmiah, keagamaan, atau bahkan acara pemerintahan.

Selain masyarakat, media bisa menjadi bagian pengawasan partisipatif. Tentunya, media tidak memiliki keberpihakan.

“Tetapi, (kecondongan) penguasaan informasi media yang kuat lah yang paling rentan mengarahkan publik mendukung calon tertentu,” tegasnya. [amn]

About Choirul Amin

Founder PT. Cendekia Creatindo

View all posts by Choirul Amin →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *