Big Band dan Kolaborasi Seni, Ikon Baru Wadahi Bakat Pelajar SMPN 2 ‘TGP’

inspirasicendekia.com, MALANG – Dua wadah kreativitas baru mulai digandrungi pelajar SMPN 2 ‘TGP’ Sumberpucung Kabupaten Malang. Adanya wadah bagi bakat kesenian ini, diharapkan berpotensi menjadi ikon baru bagi lahirnya kreasi dan kolaborasi apik di kemudian hari.

Bakat dan kemampuan seni yang bisa dikembangkan ini adalah big band dan kolaborasi seni pertunjukan. Big band merupakan gabungan keterampilan bermain drumband dan marching band. Sementara, kolaborasi seni memadukan bakat berbagai seni tradisional dan kontemporer, termasuk drama.

“Selama ini bakat anak sudah tersalurkan dalam kegiatan ekskul drumband. Dengan bigband, tentunya lebih banyak kemampuan yang harus dimiliki pemain,” demikian Ari Oke, pelatih drumband SMPN 2 Sumberpucung, Senin (3/2/2020) siang.

Kemampuan yang dibutuhkan dalam bermain bigband, lanjutnya, harus bisa lebih menguasai banyak alat musik. Termasuk, mengkolaborasikan musik moderen (marching band), dengan alat musik tradisional bernuansa etnis seperti gamelan.

“Musiknya nanti akan lebih banyak dan bisa dikolaborasi layaknya orkestra. Seperti tambahan aransemen musik pianika, biola, alat musik band dan etnis,” jelasnya.

Dikatakan Ari, drumband SMPN 2 Sumberpucung sendiri sudah kerap membanggakan prestasinya menjuarai berbagai kejuaraan hampir tiap tahun. Pada 2017 lalu, marching asuhannya bahkan ditampilkan di Istana Negara saat Peringatan Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus.

Ikon kreasi kolaborasi juga diharapkan bisa tercipta di bidang seni pertunjukan. Andi Bayu Sasongko, guru Bahasa Jawa SMPN 2 Sumberpucung mengungkapkan, siswa SMPN 2 sudah cukup berbakat dan ada potensi dalam menyajikan seni yang lebih kreatif.

“Sudah pernah menjadi penyaji terbaik di ajang seni di Jawa Timur. Kolaborasi pertunjukan wayang dan drama juga sudah ditampilkan dengan baik kemarin,” kata Ki Bayu Sasongko.

Berkreasi dalam pertunjukan kolaborasi juga diakuinya sangat memungkinkan. Ini karena didapati anak asuhnya cukup meminati budaya Jawa, selain tari tradisional dan karawitan.

“Awalnya memang tidak banyak tahu dan berminat. Namun, setelah digembleng, bakat mereka bisa lebih, bahkan untuk kolaborasi. Seperti, diajari juga seni pedalangan dan wayang,” harap lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Menambah keterampilan kolaborasi menjadi karya pertunjukan ini, menurutnya penting bagi siswa. Selain bisa menghadirkan suasana rekreatif, kata Bayu, motivasi belajar dan karakter kreativitas bisa lebih terbangun dengan berlatih membuat kreasi kolaborasi. [min]

Berita Terkait