Angkat Kesantunan dari Berbahasa Jawa, SMPN Ini Finalis OPSI Kemdikbud

734

inspirasicendekia.com, MALANG – Cara berkomunikasi diyakini bisa membentuk karakter dan perilaku yang santun. Dengan nilai-nilai yang ada dalam berbahasa Jawa, karakter santun pelajar bisa terbentuk dalam kesehariannya.

Penggunaan Bahasa Jawa untuk membentuk karakter siswa ini yang coba diangkat tim karya ilmiah pelajar SMPN 2 Sumberpucung, Kabupaten Malang. Penelitian mereka tentang ‘Javanese Area dan Kamus Kecik sebagai sarana peningkatan karakter santun pada siswa.’

Penelitian siswa SMPN 2 Sumberpucung inipun berkesempatan menjadi finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional 2019. Ini menyusul SK penetapan finalis OPSI dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kemdikbud belum lama ini.

“Kamus Kecik ini adalah buku kecil berisi kosakata dan kalimat sederhana sebagai panduan bagi siswa untuk menggunakan bahasa Jawa halus. Karakter santun bisa lebih mudah tertanamkan dengan berbahasa Kromo Inggil,” kata Utari Suryaningrat, ketua tim penelitian siswa SMPN 2 Sumberpucung, Kamis (14/11) siang.

Selain Utari, tim dari SMPN 2 Sumberpucung juga beranggotakan Ayu Cahyaning Tyas dan Ilmi Roudlatun Nafi’ah. Ketiganya kini duduk di kelas IX. Sedangkan, selaku guru pembimbing OPSI adalah Ninik Sri Utami, MPd.

Anggota tim, Ilmi R Nafi’ah menambahkan, bahasa Jawa halus memang efektif membentuk kesantunan dalam berkomunikasi.

“Setiap anak bisa berkomunikasi bagus, namun belum tentu disertai sikap, mimik dan ekspresi yang pas. Dengan berbahasa Jawa Kromo, siswa terlihat lebih santun dan halus dalam berinteraksi,” jelas Ilmi.

Sementara itu, guru pembimbing OPSI SMPN 2 Sumberpucung, Ninik Sri Utami mengungkapkan, diangkatkan penelitian ini berlatar belakang keprihatinan banyak siswa yang malah tidak tahu bahasa Jawa asli.

“Hasil penelitian ini diharapkan anak didik mengenal kembali bahasa Jawa Kromo. Ada kakater santun yang bisa muncul dengan berbahasa Jawa halus, karena saat berkomunikasi, si penutur akan bersikap dan berekspresi lebih santun,” ungkapnya.

Dengan kesantunan berbahasa, lanjut Ninik Sri, dampaknya lebih pada pembiasaan EQ (emotional quotient) anak, dan membentuk perilaku positif lainnya.

“Jika anak sudah santun, maka akan lebih nggugu (memperhatikan) dan responsif pada guru, sehingga akan lebih menghormati dan memperhatikan pelajaran yang diterima,” imbuh guru mapel IPA yang sudah bertahun-tahun membimbing penelitian ilmiah remaja ini.

Selain SMPN 2 Sumberpucung, satu tim SMPN juga ditetapkan lolos OPSI tingkat Nasional 2019, yakni dari SMPN 1 Tumpang. Tim SMPN 1 Tumpang sendiri mengangkat penelitian berjudul ‘Solar Radiation Head Detector untuk menanggulangi kebakaran hutan.’

Dirjen Dikdasmen Kemdikbud sendiri menetapkan sejumlah 102 tim sebagai finalis OPSI untuk tiga kategori bidang penilitian yang berbeda-beda. Yakni, mencakup bidang IPS (sosial dan kemanusiaan), rekayasa dan teknik, serta IPA dan lingkungan.

Pembinaan terkait OPSI ini sebelumnya juga dilangsungkan tingkat Kabupaten Malang di Dinas Pendidikan yang dilaksanakan 10 Juli 2019 lalu. Saat itu, sejumlah 17 sekolah mempresentasikan proposal penelitiannya pada tiga kategori yang ditentukan. Aspek dan bobot penilaian karya penelitian dibagi 80% skor naskah dan 20% skor presentasi. [min]

Berita Terkait