Ajak ‘Anak Jalanan’ Belajar Sablon, Mau Kok!

inspirasicendekia.com, MALANG – Di saung panggung berukuran cukup besar tampak duduk berkerumun puluhan anak muda, Jumat (23/10/2020) siang. Ada yang tampak berbeda, kebanyakan mereka berkaos serba hitam dan ada sejumlah alat musik koplo di pinggirnya.

Usai menikmati sajian makan ikan bakar dan sesekali bercengkerama, perhatian mereka lalu fokus tertuju pada salah satu diantaranya. Ya, saung yang biasa dimanfaatkan tempat makan sambil santai di kawasan Kepanjen Kabupaten Malang ini pun berubah tak ubahnya bengkel atau kelas terbuka.

Agak malu-malu dan kerap diwarnai saling lempar candaan memang. Namun begitu, mereka cukup tertarik dengan kegiatan ini. Meski terkesan canggung, sebagian cukup antusias dengan ilmu baru yang didapatkan ini. Dua potong kaos oblong hitam menjadi bahan praktik pelajaran teknik menyablon manual yang sedang mereka ikuti saat itu.

Dua disain sablon yang sudah disiapkan di kotak screen cukup simpel, salah satunya bergambar dua jari khas simbol persaudaraan. Meski tidak dijelaskan khusus, tema kemandirian sengaja dipilih melalui gambar disain sablon yang dipraktikkan bersama-sama.

Peserta kelas terbuka ini belakangan diketahui tak lain adalah para anak muda dan pekerja lepas, tergabung dalam komunitas Seniman Pasar Panjen (SPP). Sebagian masih remaja, namun sebagian besar juga sudah berusia dewasa bahkan sudah tergolong bapak-bapak. Sehari-hari mereka bekerja menjadi pengamen yang berpindah-pindah tempat, atau mengais rezeki di pasar, terminal, kawasan perbelanjaan atau tempat-tempat publik lainnya.

Hari itu, mereka sengaja meluangkan waktu sejenak tidak bergerombol di perempatan jalanan protokol dan emperan kawasan pertokoan di Kepanjen dan sekitarnya, untuk berkegiatan positif lain belajar besama. Acara ini diinisiasi pengelola BMB Air-Langga Kepanjen dan Komunitas Peduli Musala-Masjid (Kopimumas), dan didukung LAZISMU Kabupaten Malang.

Eksaka Puji Harianto, selaku koordinator SPP yang menaungi keberadaan para ‘anak jalanan’ dan pekerja lepas pasar ini mengaku, cukup berterima kasih terhadap perhatian dan kepedulian pada anggotanya ini.

“Pokok banyak-banyak berterima kasih, mas. Tidak pernah ada kami dikumpulkan dan diberi ilmu baru semacam ini. Semoga bisa lebih bermanfaat nantinya,” kata pria yang biasa dipanggil Sam Eka Bintang, Jumat (23/10) sore.

Terlebih, lanjut Eko, terus bekerja di jalanan bukan menjadi pilihan seterusnya bagi mereka. Menurutnya, sudah ada puluhan anggotanya yang kemudian bisa lepas mencari sumber penghidupan baru yang lebih layak.

Inisiator kegiatan peduli, Grenny Nuradi menyatakan, kegiatan yang dilakukan sementara sebagai bentuk kepedulian kecil pada nasib kurang beruntung mereka.

“Sementara yang penting bisa kumpul yang lebih positif. Harapannya, lama-lama ini bisa mengundang kepedulian lebih banyak lagi, agar kemandirian dan pekerjaan lebih baik didapatkan,” tandas Grenny. [min]

Berita Terkait