Buat Media Inovatif, Para Guru SD Ini Finalis Lomba Inobel Kemendikbud

374

Inspirasicendekia.com, MALANG – Lima guru SD dari Malang raya berkesempatan unjuk karya media yang dibuatnya bersaing dengan guru lain se Indonesia. Ini setelah keduanya ditetapkan sebagai finalis Lomba Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru SD 2019.

Kesempatan ini seperti tertuang dalam surat yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tertanggal 9 September 2019. Kemendikbud menetapkan setidaknya 96 finalis Lomba Inovasi Pembelajaran Guru SD tahun ini.

Mereka adalah Ayu Chandra Arsita MPd (guru SDN Oro-Oro Ombo 02 Batu), Dian Prasma Anggraini (SDN Ksatrian 01 Kota Malang) dan Dyah Ayuningtyas (SD Muhammadiyah 9).

Dua guru berprestasi lainnya dari Kabupaten Malang, yakni Ari Dwi Haryono (guru SD Bani Hasyim Singosari) dan Ursula Lita Justina (SDN Ardirejo 04 Kepanjen). Ari Dwi Haryono menjadi finalis Inobel pada kategori guru Kelas Matematika. Sementara, Ursula Lita pada kategori guru Kelas Tematik.

Keduanya sama-sama telah lolos seleksi, visitasi, dan workshop dengan penilaian sangat ketat hingga Tahap 3. Dan, pada saat Perlombaan Inovasi Pembelajaran Guru SD Nasional di Kota Batu, 22-27 September 2019 mendatang, mereka harus mempresentasikan pemanfaatan media dan alat peraga inovatif yang sudah dibuat.

Ari Dwi Haryono misalnya, telah membuat dan memanfaatkan alat peraga berupa Papan Satuan dan nol disingkat Papan Sanol. Alat peraga ini dimanfaatkan dalam pembelajaran Matematika untuk mempermudah siswa dalam mengkonversi satuan volume.

“Selama ini siswa masih kesulitan memecahkan soal hubungan satuan antar volume. Papon Sanol ini membantu lebih menjelaskan pemahaman materi tersebut,” kata Ari Dwi.

Lain halnya, Ursula Lita Jusnita telah membuat media pembelajaran inovatif berupa kolase jejak tumbuhan dengan memanfaatkan kain. Menurutnya, media ini membantu siswa dalam memahami pembelajaran tematik pada Tema 7 Subtema 2 Kelas IV SD.

Menariknya, dengan media yang dibuatnya ini bisa mengajak siswa menguasai pengetahuan, sekaligus beberapa keterampilan. Media yang dibuat Ursula ini memang mencakup pembelajaran tematik Bahasa Indonesia, IPA, serta Seni Budaya dan Prakarya.

Dikatakan, nilai artistik karya kolase jejak tumbuhan menjadi bertambah dan bisa lebih kreatif hasilnya, karena bisa dibentuk seperti yang diinginkan.

“Media ini juga mengkombinasi kemampuan jurnalistik anak, dimana proses membuat kolase diliput lalu dijadikan laporan dalam bentuk e-book. Semua dilakukan dalam waktu sehari,” kata Ursula Lita ditemui di SDN Ardirejo 4, Jumat (13/9/2019).

Menurutnya, pembelajaran dengan cara ini berpengaruh pada pola pikir ana-anak, yakni lebih respek satu sama lain dengan teman sebaya, karena setiap anak punya kelebihan. Mereka juga jadi lebih percaya diri dan berani. [min]

Berita Terkait