3 Mahasiswa UB Sulap Limbah Air Rumah Potong Hewan Jadi Energi Listrik

995

inspirasicendekia.com, MALANG – Tiga mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Brawijaya, kini disibukkan dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi alternatif yang efisien dan tidak memberikan dampak pencemaran terhadap lingkungan.

Mereka diantaranya adalah Hendra Surawijaya, Elfahra Casanza Amada dan Rizhaf Setyo Hartono. Penemuan mereka dalam pemanfaatan limbah air Rumah Potong Hewan (RPH) yang diolah untuk menghasilkan alternatif listrik dinamakan Slaughtering House Waste Water atau SHOWER.

Hendra, ketua tim, mengaku alasan utama membuat energi baru terbarukan karena pertumbuhan konsumsi energi Indonesia rata-rata mencapai empat persen per tahunnya. Peningkatan ini tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi dan penduduk di Indonesia.

Selain itu, pemerintah sendiri menargetkan suplai listrik sebesar 100ribu megawatt (MW) pada 2025, dengan 23 ribu MW di antaranya berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT. Hal inilah yang membuat pemerintah menargetkan pembangunan dua ribu MW listrik berbasis EBT setiap tahun.

“SHOWER adalah inovasi rancang bangun alat pemanfaatan bakteri limbah air rumah potong hewan dengan konsep bernama Agar Salt Bridge. Teknologi SHOWER diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan Rumah Pemotongan Hewan (RPH),” kata Hendra.

Secara teknis, SHOWER memanfaatkan limbah air agar bisa mengurangi pencemaran lingkungan sekitar rumah potong hewan, sehingga bau limbah air yang tidak tidak sedap itu bisa menjadi alternatif energi baru dan terbarukan.

Mekanisme kerja SHOWER sangat mudah, yaitu air limbah rumah potong hewan yang telah diambil ditampung ke dalam chamber penyimpanan.

“Pada chamber penyimpanan dicampur dengan Effective Microorganisme 4 (EM4) untuk menghilangkan bau pada air limbah. Kemudian, dimasukkan ke dalam chamber lalu ditambahkan manitol salt agar dan garam elektrolit,” ujar Hendra.

Setelah itu, bakteri akan mengoksidasi substrat dan menghasilkan elektron dan proton pada anoda. Elektron ditransfer melalui sirkuit eksternal, sedangkan proton didifusikan melalui separator membran manitol salt agar menuju katoda. Beda potensial elektron dan proton akan menghasilkan arus listrik.

“Energi listrik yang dihasilkan dari limbah air Rumah Potong Hewan dapat menjawab tantangan zero waste dan mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, alat ini juga sebagai sumber energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan, efisien, murah, dan mudah digunakan,” tutur Hendra.

Menurutnya, berdasarkan kelebihan tersebut alat ini memiliki potensi yang luar biasa untuk mengatasi ketenagalistrikan dan ketahanan energi di Indonesia sehingga mampu mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). (Red)


Beri Komentar
Berita Terkait