‘Dream Catcher,’ Pesan Kemuliaan yang Jadi Film Indie Terbaik OlympicAD Nasional

1.085

inspirasicendekia.com, MALANG – Pelajar SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen (Malvocs) Kabupaten Malang boleh dengan karyanya. Film pendek ‘Dream Catcher (DC)’ tim Malvocs kembali mendapatkan predikat juara terbaik, Ahad (27/10/2019).

Kali ini, penghargaan juara 1 didapatkan tim Malvocs dari ajang Olimpiade Ahmad Dahlan (OlympicAD) VI bidang lomba Film Indie, yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang, selama 26-28 Oktober 2019.

Enam siswa Malvocs tergabung dalam kru penggarapan film ‘Dream Catcher’ ini. Diantaranya, Aryk (kameramen), Behril F. Novia Rahmadhani (produser), Gama Derta Prapanca (soundman), Risma Rara Sasti (editor), Firman Maulana (boomer) dan Fauzan Irfan Trio (lightingman).

Salah satu adegan film ‘Dream Catcher’ saat pengambilan gambar oleh tim Malvocs.

Film pendek ‘DC’ disutradarai Annisa Rahmawati, dan bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang ingin melihat anaknya kembali ceria, dengan berjualan mainan ‘Dream Catcher.’ Ini setelah kejadian yang menimpa putrinya tersebut.

Dalam film, dimunculkan dua pemeran remaja dengan kepekaan sosial dan muliaan pekertinya untuk membantu sang Ibu tua tersebut. Kedua remaja ini akhirnya membantu ibu tersebut, tanpa mengharuskan si ibu keluar dan berpanas-panasan lagi. Mereka ikut menjualkan mainan ‘DC’ menggunakan teknologi internet dan sosial media.

“Jadi, dalam flim ini ide kami terinspirasi dari janji pelajar sekolah Muhammadiyah yang kelima, yaitu rela berkorban dan menolong sesama,” kata Aryk, Senin (28/10) siang.

Tak hanya itu, lanjutnya, di film pendek ini juga mengkolaborasikan Revolusi Industri 4.0. Wujudnya, memanfaatkan media sosial/internet sebagai usaha dan memajukan sebuah usaha.

Bagi tim Malvocs, diraihnya juara 1 film indie OlympicAD nasional ini seakan membayar kerja keras tim. Menurut Aryk, butuh waktu setidaknya satu pekan full dalam menggarap film indie ‘DC’ ini.

“Banyak kendala yang dialami, salah satunya karena naskah cerita (skrip) sempat hilang. Jadi, kami itu setiap mau ambil gambar per adegan (scene), ya harus dulu menulus kembali naskahnya,” kenangnya.

Akan tetapi, lanjut Aryk, kerja keras dan biasa menghadapi kendala, menjadikan tim tak mudah putus asa dan tetap termotavasi. Terlebih, membuat film pendek bukan kali pertama bagi tim. Sudah banyak karya film yang dihasilkan Mlavocs dan mendapatkan berbagai penghargaan. [min]

Berita Terkait