ads

Haedar Nashir: Islam Penyangga Persatuan, Jangan Dirusak!

  • Save

inspirasicendekia.com, MALANG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiya, Haedar Nashir, mengajak semua pihak mengedapankan hukum mensikapi fenomena politik akhir-akhir ini.

Penegasan ini disampaikan dalam kesempatan Kajian Ramadhan 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5/2019) siang.

Ditegaskan Haedar, sudah menjadi sikap resmi Muhammadiyah yang berlaku di Tanah Air, pada 18 April 2019 lalu, bahwa Muhammadiyah mengajak seluruh warga negara dan bangsa berpijak di atas hukum dan konstitusi yang berlaku.

“Semua harus menerima apa yang diputuskan KPU. Bagi yang tidak puas, bahkan jika ada kesalahan dan kecurangan, bawalah ke ranah hukum agar semuanya transparan. Tentu kita harus kawal juga,” ungkapnya.

Sebaliknya, kata Haedar, Muhammadiyah mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu dan semua pihak untuk mengedepankan asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luberjurdil), serta berdiri tegak di atas konstitusi dan hukum yang berlaku.

  • Save

Haedar Nashir juga mengingatkan, pemilu itu jangan sampai memicu keretakan sebagai bangsa. Karena persatuan selama ini menjadi kekuatan. Menurutnya, sumbangan ummat Islam untuk bangsa ini besar, menjadikannya sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.

“Tidak ada negeri muslim yang memberi toleransi yang begitu baik. Artinya, ummat Islam itu menjadi penyangga persatuan Indonesia. Maka, jangan dirusak!,” ujarnya.

Sejak Indonesia mengamandemen Undang-undang Dasar 1945, ada satu ayat yang ditambahkan, yang dulu tidak ada di UUD 1945 asli. Yakni, “Indonesia adalah negara hukum”.

“Kepada mereka yang dulu terlibat dalam amandemen, mohon dibaca kembali. Bahwa Indonesia, negara hukum. Artinya, menyelesaikan segala masalah lewat hukum. Penegak hukum juga harus adil dan menegakkan hukum sebaik-baiknya,” tegas Haedar.

Ketika bangsa menjujung politik nilai, kata Haedar, maka akan berhadapan dengan politik pragmatis-oportunistik. Dalam bahasa lain, yakni politik Jahiliyah, atau politik ketertinggalan dan keterbelakangan secara nilai.

“Kita ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia dan ummat Islam untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk membangun umat terbaik dan bangsa unggulan,” demikian imbauan ketua PP Muhammadiyah ini. [idn/amn]

About Choirul Amin

Founder PT. Cendekia Creatindo

View all posts by Choirul Amin →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *