Galau PPDB Sistem Zonasi, Apa Sih Alasannya? (Bagian-1)

1.341

Tahun ajaran ini, pemerintah resmi menerapkan kebijakan zonasi dalam pendaftaran peserta didik baru (PPDB). Sistem yang disebut-sebut memberi kesempatan bagi masyarakat mendapatkan pendidikan terbaik, belajar di sekolah yang terdekat dengan domisilinya.

Pertama kali diterapkan secara nasional, zonasi PPDB mau tak mau dilaksanakan di semua sekolah. Namun, kebijakan ini disambut publik dengan beragam. Tidak sedikit pihak yang merasa galau dengan kebijakan baru pemerataan kesempatan pendidikan ini.

Muncul polemik, karena zonasi tidak serta merta bisa diterima dengan positif sebagian kalangan. Publik, bahkan penyelenggara dan stakeholder pendidikan sendiri, seperti terkaget-kaget dengan sistem baru ini.

Ada pemikiran, pendidikan di Indonesia masih belum siap dengan sistem zonasi ini. Alasannya, belum semuanya kebutuhan pendidikan tercukupi dan masih tinggi kesenjangan mutu antarsekolah.

Lebih miris lagi, pesimisme dan skpetis muncul, bahwa zonasi bisa jadi kontraproduktif. Zonasi dianggap justru berekses ‘pembodohan’, melemahkan daya saing bangsa Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Bisa jadi, pandangan di atas terlalu berlebihan, ungkapan dari kekawatiran dan kegalauan sebagian khalayak yang selama ini berada di zona nyaman (status quo). Akan tetapi, kebijakan ini tetap harus ditimbang untung ruginya.

Sekolah Favorit Minded

Sebuah fenomena, sekolah negeri favorit masih menjadi primadona dan incaran masyarakat. Pada PPDB tahun ini, kenyataan ini masih muncul, orang tua berbondong-bondong turut mengantarkan anaknya mendaftar favorit di sekolah yang diinginkan.

Hari pertama saja pengambilan PIN (personal identity number) bagi calon siswa baru di dua sekolah negeri favorit belum lama ini sudah diserbu. SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang misalnya, sudah dibanjiri pendaftar sejak hari pertama yang berniat mengambil token.

Hingga pendaftaran hari terakhir, Kamis (20/5/2019) sampai pukul 12.40 WIB, tercatat pendaftar yang sudah mengambil PIN 697 pendaftar, padahal daya tampung SMAN 1 ini hanya 432 siswa. Begitu pun, SMPN 4 Kepanjen, sudah diserbu 700 lebih pendaftar pada hari pertama, sementara pagu siswa baru hanya 344.

Sebuah media online berbasis di Kota Surabaya juga menyebutkan, setidaknya ada sejumlah 1.131 siswa cerdas yang tidak tertampung di SMA negeri di Surabaya sebagai dampak PPDB sistem zonasi. Jumlah ini karena kuota 20 persen bagi siswa baru yang bisa diterima dengan nilai UN yang diperingkat.

Tetapi, pihak sekolah tak serta merta puas dan tenang atas kondisi ini. Kepala sekolah negeri fovorit ini pun tak ayal jadi sasaran kekecewaan masyarakat dan sebagian kalangan.

Dalam pengakuannya, tak sedikit orang tua siswa protes dan ‘menyalahkan’ sistem zonasi, karena membatasi pilihan sekolah. Anak mereka yang kebetulan bagus prestasi (akademiknya), tidak bisa diterima karena domisilinya lebih jauh.

Dalam nalar sumbu pendek mereka, mendukung kebutuhan belajar dan menyekolahkan si anak di sekolah lebih bagus sebelumnya, menjadi hal sia-sia.

Motivasi Berprestasi Rendah

Dalam sebuah perbincangan, penulis kerap mendapati ‘curhat’ sebagian guru terkait motivasi belajar siswa yang menurun selama beberapa tahun terakhir.

Apa sebab? Dari pengalaman sang guru, menurunnya motivasi belajar ini banyak terjadi pada mapel yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN), seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA (Sains). Karena tidak lagi menjadi penentu kelulusan utama, semangat siswa dirasakan melemah, bahkan saat belajar di kelas.

“Seperti tidak ada lagi yang dikawatirkan. Belajar siswa jadi seenaknya dan rendah motivasinya,” cerita seorang guru SMAN di Kabupaten Malang.

Ditambah lagi, tidak dimasukkannya hasil UN sebagai syarat pendaftaran dan penentu utama diterimanya dalam PPDB tahun ini. Jika pun digunakan, maka hanya kecil persentasenya, bukan prioritas yang bisa menentukan diterima menjadi siswa.

“Siswa pandai sekarang lebih ditentukan meteran (jarak domisili), bukan capaian kemampuan akademiknya,” demikian ungkap nyinyir kekecewaan masyarakat yang kini kerap terdengar. He…

Ya, sistem zonasi lebih melihat jarak domisili. Semakin dekat dengan sekolah yang diinginkan, semakin tinggi peluangnya bisa diterima di sekolah tersebut. [*]


Beri Komentar
Berita Terkait