Tahun Berganti, Tonggak Revolusi atau Sekadar (Re)Solusi ?

Tahun Berganti, Tonggak Revolusi atau Sekadar (Re)Solusi ?Pergantian tahun, menjadi saat yang selalu dinanti hampir oleh siapa pun. Pergantian yang sejatinya adalah pengulangan masa pun begitu dinanti untuk dirayakan dengan ingar bingar pesta keceriaan, kemewahan, atau sekadar kesahajaan dan kesunyian. Pun, oleh kebanyakan orang pergantian tahun baru dimaknai dengan lembaran masa dengan penuh perenungan, pengharapan, atau itikad dan cita-cita.

Ya, pergantian tahun bisa jadi adalah momen dan tonggak untuk menapaki masa depan. Barangkali, ada pandangan nyinyir bahwa perayaan pergantian tahun identik dengan budaya latah, sarat mistis, atau bahkan mencerminkan kelemahan alam sadar yang mengalahkan rasionalitas siapa yang merayakannya secara berlebihan. Ya, ramalan (tarrot dan Fengshui), menjadi laris manis dan begitu dipercaya karena bisa membaca kehidupan seseorang selama setahun yang baru.

Ada pula yang memaknai pergantian tahun tidak sepantasnya dirayakan dengan bersenang-senang, sebaliknya disesali dengan banyak introsoeksi diri (muhassabah). Karena, sejatinya dengan kita lupa pada masa lalu, berarti kita tidak sadar semua hal buruk dan negatif yang barangkali telah kita perbuat di tahun lalu. Apa istimewanya Tahun Baru kalo sekadar untuk dirayakan, apalagi dengan kemewahan dan foya-foya?

Tiap orang memang banyak membuat resolusi saat menapaki tahun baru. Bahkan, ada yang sampai mengumumkan secara luas dan terbuka resolusi tahun 2016 dengan memposting di media sosial. Apapun resolusi yang diniatkan memang sah-sah saja, terlebih semua resolusi arahnya adalah untuk kebaikan dan kebajikan hidup yang tentunya lebih baik. Baik itu dalam kehidupan privat, keseharian bermasyarakat atau bahkan berbangsa dan bernegara.

Tak terkecuali, Joko Widodo, Presiden RI ke-7, yang juga mempunyai harapan besar Indonesia hingga 70 tahun mendatang. Meski tidak dituliskan dalam Lembaran Negara, melainkan pada secarik kertas, tulisan berjudul “Impian Indonesia 2015-2085” ini adalah resolusi Jokowi menyongsong 2016 karena juga ditulis pada 30 Desember 2015 di atas wilayah Timur Indonesia, Bumi Merauke. Salah satu impian seorang Jokowi adalah Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia.

Pertanyaannya, jika resolusi itu hanyalah perbaikan terhadap persoalan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sejatinya itu bukan lah hal baru. Sekadar mengulang dalam mengatasi problema laten dan bertahun-tahun sama alias re-solusi (pemecahan kembali). Jika demikian halnya, tidak ada kemajuan signifikan dalam perjalalan kehidupan ini. Apalagi, bukan kah kita termasuk golongan orang yang merugi, jika hari ini sama atau bahkan lebih buruk dibanding hari-hari kemarin?

Dalam konteks kemasyarakatan berbang dan bernegara Indonesia, yang tengah digalakkan oleh para pemimpin bukan lah sebatas resolusi setahun 2016, melainkan harapan dan upaya perubahan besar setidaknya hingga 2025 mendatang. Ya, harapan Revolusi Mental bangsa Indonesia, sebuah upaya mendasar agar anak bangsa menjadi generasi yang jauh lebih baik dan berkualitas, mental maupun spiritual.

1 Januari 2016, kita sudah dihadapkan pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mulai 2016 ini, pemerintah juga telah berkomitmen menjamin kesejahteraan aparat birokrasi (PNS) lebih besar agar bisa menghasilkan pelayanan publik yang lebih baik pula.

Konon, Revolusi Mental ini bisa dimulai dari aspek pendidikan bangsa. Indonesia telah menginisiasi gerakan moral Gerakan Subuhan Berjamaah Nasional, Indonesia sudah memiliki Hari Santri Nasional, Indonesia sudah mencanangkan 4 Pilar Kebangsaaan, selain seabrek regulasi dan momen hari-hari besar seperti Hari Guru Nasional, Hari Pendidikan Nasional, atau gerakan nasional yang sudah menjadi kesepakatan bangsa lainnya.

Selamat Tahun Baru 2016! Semoga bisa menjadi tonggak dan pondasi kuat Revolusi Mental.
Wallahu’alam bisshawab. (*

Opini: Choirul Ameen

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.