Beranda LITERASI Perlunya Kepemimpinan Transformasional di SMK dalam Menjalin Kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri

Perlunya Kepemimpinan Transformasional di SMK dalam Menjalin Kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri

343
0
BERBAGI
Mufarrihul Hazin, M.Pd

MEA 2015 Telah Tiba

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah diberlakukan mulai tanggal 15 Desember tahun ini, hal ini menunjukan Perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini memberikan sinyal akan pentingnya peningkatan kemandirian dan daya saing sebuah negara di dunia internasional, terutama Indonesia.

Pemberlakuan MEA ini, dapat dimaknai sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara, yang ditandai dengan terjadinya arus bebas: barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal. Ini juga akan menjadikan kawasan ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif.

Produktivitas yang tinggi mencerminkan daya saing tinggi dan daya saing tinggi berpotensi menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Untuk bisa menjadi negara dengan daya saing tinggi harus ada beberapa yang harus terpenuhi diantaranya meliputi infrastruktur, kualitas birokrasi, stabilitas ekonomi makro, serta pendidikan, yang kesemuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya saing ekonomi.

SMK, Dunia Industri dan Dunia Usaha (DIDU)

Indonesia dalam mengahadapi MEA sudah dipersiapkan sejak dahulu, dengan bertumbuh kembangnya sekolah yang mengutamakan peningkatan ketrampilan yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jumlah SMK di Indonesia menurut data pokok pendidikan menengah kementerian pendidikan dan kebudayaan RI terdapat 12.938 Sekolah dengan jumlah siswa 4.426.200 Siswa. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah SMA dan MA di Indonesia. (Sumber : http://dapo.dikmen.kemdikbud.go.id/portal/web/ tanggal 12/12/2015)

Meningkatnya jumlah peminat pada SMK, hal ini menunjukkan keberhasilan promosi yang dilakukan kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Di sisi lain, fenomena itu menunjukkan bahwa adanya kecenderungan masyarakat yang pragmatis dalam memilih SMK. Ini tidak lepas dari peran SMK yang mampu mencetak tenaga terampil dan mengurangi masalah pelik pengangguran. Selain itu, menurut Joko Sutrisno (2008), SMK mampu menyiapkan peserta didik yang kreatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Namun, Anggapan kalau lulusan SMK dapat cepat diterima didunia kerja tidak selalu tepat. karena banyak perusahaan dan industri yang mengeluhkan sulitnya mendapat teknisi tingkat menengah sesuai standar. Padahal, peluang kerja terbuka di dalam dan luar negeri, yang tidak terpenuhi karena lulusan yang ada belum mencapai kompetensi yang dibutuhkan.

Masalah Ketidakterkaitan antara SMK dan dunia usaha atau dunia industri, disebabkan beberapa faktot, Faktor Pertama, tidak semua SMK mencetak lulusan yang adaptif dengan dunia kerja. Hal ini disebabkan ketidaktersediaan fasilitas bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern, serta membangun kerja sama yang kuat dengan dunia kerja.

Kedua, dari aspek tenaga pengajar, banyak guru SMK yang ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Akibatnya, banyak pendidikan di SMK yang dijalankan secara asal-asalan yang muaranya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai. Ketiga, program-program yang ditawarkan SMK saat ini belum efektif dan efisien. Ini dapat dilihat dari kualitas lulusan yang belum mampu menjawab tantangan dunia industri. Dengan kata lain, belum ada kesesuaian antara SMK dan industri. Ketika lulusan SMK masuk dunia kerja, ternyata teknologi industri sudah berkembang pesat.

Keempat, kurang kerjasama yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri. Hal ini dikarenakan sosok pemimpin sekolah atau yang sering disebut kepala sekolah belum memiliki jiwa kepemimpinan transformasional.

Kepemimpinan Transformasional

Dalam dunia kepemimpinan, Bass melontarkan kepemimpinan transformasional sebagai berikut, “Pemimpin disebut transformasional ketika mereka meningkatkan kesadaran akan apa yang benar, baik, penting, dan indah. Ketika mereka membantu meningkatkan kebutuhan para pengikutnya akan prestasi dan aktualisasi diri; ketika mereka mendorong kematangan moral yang tinggi ke dalam para pengikutnya; dan ketika mereka menggerakkan para pengikutnya untuk bergerak melampaui kepentingan diri demi kebaikan kelompok, organisasi, dan masyarakat mereka.” namun, kepemimpinan transformasional tidak dipandang dari sudut di atas saja, tetapi juga dari kesanggupan seorang pemimpin membawa perubahan dan besarnya perubahan yang dibawanya.

Seorang pemimpin bisa dikatakan memiliki jiwa kepemimpinan transformasional, jika pemimpin tersebut memiliki beberapa hal. Diantaranya, Pertama, memiliki visi dan semangat (passion) akan menyuntikkan energi kepada para pengikutnya. Visi merupakan gambaran masa depan yang diinginkan. “Passion” didefinisikan sebagai keinginan yang kuat, dan dedikasi untuk sebuah aktivitas. Kombinasi keduanya merupakan kekuatan tak terkalahkan dalam mewujudkan transformasi.

Kedua, memimpin dengan inovasi. Inovasi adalah membangun cara baru dan lebih baik demi sebuah tujuan. Pemimpin tranformasional banyak terlibat dalam perubahan menuju kebaikan. Tak sedikit pemimpin sangat efektif memimpin “status quo”. Mereka bisa juga sangat berpengaruh, tetapi tidak membawa perubahan.

Ketiga, menekankan “human nature”. Transformasi bicara tentang perubahan, dan manusialah pembawa perubahan tersebut. Pemimpin transformasional dapat memotivasi pengikut dan komunitasnya untuk terlibat dalam perubahan. Ia mengajak orang berubah dan melakukan perubahan, ahli dalam menyelaraskan talenta setiap individu dengan tujuan organisasi secara keseluruhan demi hasil yang maksimal. Ia mampu mencari, memlengkapi, dan mendorong orang-orang untuk membawa visi menjadi kenyataan.

Dengan demikian, sangat dibutuhkan jiwa kepemimpinan transformasional yang mampu memiliki visi dan inovasi dalam mengembangkan sekolah kejuruan untuk menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri. Dengan menjalin kerjasama dengan berbagai instansi, maka pertama, para pesrta didik akan mendapat sertifikasi keterampilan di bidangnya, kedua, setelah lulus maka para lulusan dapat digunakan di instansi tersebut. Ketiga, dalam proses pembelajaran akan lebih sering praktek dari pada teori dengan bimbingan dari pihak stakeholder.

Ketika ini sudah dilakukan oleh para kepala sekolah SMK, maka lulusan SMK, akan memiliki kompetensi dan keterampilan yang tersertifikasi dan siap kerja, serta mampu untuk bersaing di dunia usaha dan industri. Hal ini berarti Indonesia siap dalam menerapkan MEA yang sudah dimulai tahun ini.

Pewarta: Mufarrihul Hazin, M.Pd*)

*)penulis kini menempuh S3 Program Doktoral Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Juga praktisi Trainer-Motivator Pendidikan)

Print
PILIHAN REDAKSI:
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here