Pentaskan ‘Behind the Mask’, Dua Bulan Berkutat Alat Musik Langka

Bulan September 2015 silam, untuk kali kesekian Azis Suprianto mendapat tawaran ikut pementasan teater keliling lagi. Kali ini, adalah dalam rangka memenuhi undangan pementasan dari bapak Heiner, seorang dosen di Gothe Universitat am Main Frankfurt, Jerman. Akan tetapi, kali ini Kak Azis tidak lagi sebagai aktor, melainkan dipercaya untuk mengatur ilustrasi musik dengan menggunakan alat musik daerah. Diantaranya, Sampek dari Kalimantan, Tifa dari Irian Jaya, serta seruling dan rebab dari Bali.

Merasa tertantang untuk mengikuti, maka ia segera mempersiapkan diri dengan berlatih memainkan alat musik rebab, sampek, tifa dan seruling Bali. Menariknya, alat musik Sampek dibuatnya sendiri dan mulai berlatih cara memainkan alat musik ini.

“Selama kurang lebih dua bulan setengah saya mencoba berlatih dan terus berlatih, hingga akhirnya saya mencintai alat musik sampek. Tentunya latihan yang saya lakukan sesuai dengan yang diinginkan sutradara mas Rudolf Puspa. Naskah drama yang dikirim lewat email saya pelajari sesuai catatan musik yang diinginkan,” tutur Azis Suprianto.

Selama kurang lebih 1,5 bulan, akhirnya pada 8 oktober 2015 Azis diminta datang ke Jakarta, karena harus latihan bersama aktor dan aktris yang akan memainkan naskah Behind the Mask.

Rombongan Azis Suprianto cs memulai perjalanan ke Eropa pada 26 Oktober 2015 dengan bertolak dari Bandara Halim Perdana Kusuma Cengkareng. Menaiki pesawat Etihad selama delapan jam, perjalanan rombongan akhirnya berhasil mendarat di bandara Abudabi untuk transit selama dua jam. Selanjutnya, dari Abudabi terbang menuju Frankfurt Jerman dan akhirnya mendarat di Frankfurt pukul 06.00 waktu setempat.

Catatan Perjalanan Azis Suprianto ke JermanSesudah mengambil semua barang dan siap memasuki pintu imigrasi, terjadi ketegangan baru saat petugas menanyakan perihal kedatangan kami ke Frankfurt. Setelah dijelaskan bahwa kami diundang oleh Gothe Univeritat Am Main. Semua rombongan teater keliling untuk sementara disuruh menunggu di kantor imigrasi selama konfirmasi kepada panitia. Lebih dari sepuluh menit berselang, akhirnya Bapak Heiner datang menjemput kami.

Rombongan akhirnya diajak naik kereta api bawah tanah menuju hotel tempat menginap. Pagi harinya, kami harus mengunjungi kampus Gothe universitat Am Main untuk bertemu dengan Rektor Prof .Dr. Arndt Graft.

Ternyata Rektor sangat fasih berbahasa Indonesia memberikan sambutan hangat dan sekilas menjelaskan tentang program Centre of Asian Studies. Dikatakan, kuliah di kampus ini gratis yang penting ada biaya untuk apartemen dan kebutuhan pribadi selama kuliah. Juga sedikit cerita bahwa kampus yang sekarang di tempati nantinya akan dirobohkan dan akan dibangun gedung pusat kebudayaan. Semua biaya kiliah kampus merupakan hasil pajak yang dibayar masyarakat Frankurt. Frankfurt sendiri adalah kota kecil yang luar biasa. Banyak penduduk setempat memilih transportasi dengan mengendarai sepeda pancal atau cukup dengan naik kereta api bawah tanah. Kejujuran sudah dibiasakan dengan jarangnya ada petugas kontrol ticket. Akan tetapi, kalau tiba-tiba ada kontrol dan diketahui tidak membeli tiket, maka penumpang ini akan terkena denda 6 kali lipat harga tiket.

Usai acara bertemu Rektor, kami diajak keliling kota Frankfurt dengan bus pariwisata selama kurang lebih dua jam perjalanan mengelingi kota lengkap dengan pemandu wisata yang menjelaskan tempat-tempat bersejarah atau obyek wisata yang kita lewati. Usai keliling, kami diarahkan ke acara utama persiapan panggung untuk pementasan Behind The Mask. Panggung teater Das International Theatre Frankfurt tidak terlalu besar dengan kapasitas penonton 150 kursi .Harga tiket pertunjukan dua kali harga tiket bioskop dan bagi mahasiswa yang menunjukkan kartu mahasiswa dapat diskon khusus.

Pada awal pertunjukan penonton sangat serius menyaksikan pertunjukan Behind The Mask yang sebenarnya naskah komedi. Baru kurang lebih 15 menit setelahnya, pertunjukan dengan suasana tegang mulai cair hingga akhir pertunjukan. Naskah Behind The Mask sendiri menggunakan unsur bunyi celoteh dalam berdialog, tidak menggunakan bahasa tertentu.

Di akhir pertunjukan, saya menyanyikan lagu Die Gedanken Sin Frei, lagu jerman yang tidak ada penciptanya, tetapi cukup hit saat ini .Jerman termasuk negara yang sangat menghargai karya seni. Jika kita menyanyikan lagu seseorang untuk tujuan komersil, maka kita harus ijin dan membayar royalti pada sang penciptanya.

Pementasan berakhir dengan sukses penonton berdatangan menyalami pemain dan sutradara Mas Rudolf Puspa. Saya pun tidak menyangka mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari penonton. Selesai pementasan ada yang minta foto foto bersama pemain. Saat keluar gedung, di luar dugaan para penonton masih ramai di depan pintu keluar dan mereka mengucapakan “danke Bravo I like your perfomance!”

Usai pementasan pertama di Frankfurt, Jerman, selanjutnya perjalanan kami bersambung ke pementasan ke dua di Kota Berlin. (*)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.