Menyemai Karakter Unggul di Perpustakaan

literasi-guru-menulisPerpustakaan adalah jantungnya sekolah, sebuah jargon yang sering kita dengar. Berperan memompa darah segar bagi proses pembelajaran yang kondusif dan berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Perpustakaan sekolah diharapkan mampu mengantarkan siswa dari tahap belajar membaca (learn to read) ke tahapan membaca untuk belajar (read to learn).

Terlebih salah satu poin penting dalam pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah pernyataan bahwa ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat pembelajaran.

Undang Undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyatakan bahwa Pemerintah berkewajiban menggalakkan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan. Untuk itu perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi. Dimana fungsi perpustakaan adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi yang akan memperluas wawasan, meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Keberadaan perpustakaan sekolah memiliki beberapa manfaat. Pertama merangsang minat membaca baik pada guru dan siswa. Dari membaca, seseorang bisa mendapatkan informasi yang barangkali belum pernah dilihat atau didengarnya secara lengkap dan akurat. Kedua murid terbiasa belajar mandiri serta terlatih kearah tanggung jawab.

Ketiga selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat mencapai prestasi yang tinggi. Sedangkan manfaat yang didapat seorang guru dari penugasan untuk membaca di perpustakaan; berupa tambahan wawasan baru tentang berbagai hal, misalnya tokoh idola siswa. Pengetahuan praktis materi sains dan teknologi sebagai realisasi penulisan karya ilmiah. Mengetahui info terkini saat mendengarkan berita di perpustakaan. Guru menjadi lebih mengenal karakter murid melalui respon mereka terhadap tugas yang diberikan. Dengan demikian perpustakaan sebagai sumber informasi maupun laboratorium belajar memungkinkan guru dan murid meningkatkan kualitasnya.

Kenyataannya tidak mudah mewujudkan perpustakaan sekolah yang ideal. Kita bayangkan saat bel istirahat berdering anak-anak bergegas menuju ruang perpustakaan sekolah yang nyaman, meminjam koleksi yang diinginkan dan menemukannya secara mudah. Mengembalikan buku tepat waktu serta meletakkan sesuai klasifikasi. Berbagi cerita dengan teman-temannya tentang buku yang baru saja ia baca.

Semua dilakukan dalam waktu yang teramat singkat. Jam istirahat. Mereka lebih senang berada di ruang perpustakaan daripada ruang kelasnya sendiri. Atau tempat menarik lain yang difasilitasi sekolah. Sementara itu, guru atau teman mereka yang menjadi pengelola perpustakan sekolah menyambut mereka dengan senyum dan menunjukkan koleksi buku terbaru yang dimiliki sekolah.

Adapun kendala yang dihadapi dalam mewujudkan perpustakaan ideal diantaranya ketersediaan koleksi buku yang kurang memadai, pajangan buku yang ada di rak buku terlihat semrawut, letak meja kursi untuk membaca terkesan porak poranda, debu dimana-mana serta rumah laba-laba di sudut ruang menambah kumuh ruangan. Masih ditambah pelayanan yang kurang ramah dari petugas yang kurang menguasai teknologi informasi. Makin menjauhkan perpustakaan dari kondisi ideal.

Akan tetapi kehadiran pustakawan yang ramah, berdedikasi tinggi pada tugas pelayanan serta memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi; belumlah cukup mewujudkan perpustakaan yang ideal. Ada hal lain yang perlu dicermati dalam pengembangan perpustakaan, dibutuhkan segala hal serba praktis dan efektif termasuk dalam mengatur perpustakaan.

Diperlukan keterlibatan dan partisipasi siswa serta peran aktif dewan guru dalam pemeliharaan perpustakaan sekolah. Keterlibatan siswa dapat diwujudkan melalui kegiatan rutin perpustakaan . Mereka merasa memiliki perpustaaan tersebut karena memang sejak awal mereka terlibat.

Pertama dengan mengajak beberapa siswa peminjam aktif untuk memilih buku yang akan dibeli, ketika menambah koleksi perpustakaan.

Kedua melibatkan Pustaka Remaja yaitu kelompok siswa yang merupakan pengunjung tetap sekaligus peminjam aktif memberikan edukasi perpustakaan pada awal tahun ajaran baru.
Ketiga memberi kesempatan pada siswa menuliskan nama dan buku yang dipinjam pada kartu peminjamannya sebagai bagian dalam layanan.

Keempat pada jam kosong meminta bantuan siswa untuk membuat rekapan pengunjung dan peminjam koleksi perpustakaan. Kelima meminta bantuan untuk memanggil siswa yang sudah lebih dari batas ketentuan peminjaman koleksi. Keenam memasang dan menampilkan berita hangat di koran edisi terbaru di papan mading.

Perpustakaan ideal juga dapat diwujudkan dewan guru yang mengajak siswanya ke perpustakaan. Dengan cara menyediakan waktu sekitar 10 menit mengingatkan siswa untuk peduli terhadap letak kursi dan meja baca, mengembalikannya secara rapi dengan seksama.
Sebagai tempat belajar dan rekreasi, perpustakaan yang indah, bersih dan nyaman akan meningkatkan minat siswa. Kondisi ideal sebuah perpustakaan tersebut hanya bisa terwujud dalam bentuk kerjasama antara pustakawan yang berkualitas, manajemen yang handal dan partisipasi dewan guru dengan menghadirkan karakter unggul dalam diri siswa, mulai dari kepedulian terhadap kerapian penataan koleksi, keteraturan letak mebeler hingga kebersihan ruang.

Tentu saja ada unsur utama dan sangat menentukan penciptaan kondisi perpustakaan ideal berupa dukungan dana dan fasilitas dari sang penentu kebijakan yaitu Kepala Sekolah.
Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi terciptanya perpustakaan sebagai sumber informasi, bukan hanya sebagai symbol belaka. Amien.

Oleh: Dra. Endang Prapti SA (Guru PKn SMP Negeri 1 Turen)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.