Menjadi Indonesia, Dari Stadion atau Pentas Politik?

Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia

“Siapa kitaaaa? INDONESIA!”

Jargon heroik ini kerap terngiang setidaknya beberapa pekan terakhir. Tidak dari seremoni agung kenegaraan, namun dari teriakan komentator bola di acara olahraga televisi.

Ya, heroisme dan patriotik belakangan muncul dari dalam stadion dan lapangan sepakbola. Saat pemain timnas mempertaruhkan keringat dan raganya demi sebuah kemenangan dan harga diri Indonesia. Indonesia dan Merah Putih seakan menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat bagi tim AFF U-16, U-23 atau pun kontingen Asian Games 2018.

Gegap gempita dari lapangan bola dan stadion berikut heroisme “Siapa kitaaaa? INDONESIA!” seakan telah membangkitkan alam sadar siapapun, menyatukan bangsa bahwa semua adalah Satu Indonesia. Fenonema patriotik dan persatuan bangsa yang bahkan bisa menguat terlebih kini Republik Indonesia berada dalam bulan Kemerdekaan.

Tetapi, fenomena kesatuan dari lapangan bola ini mungkin bisa berbeda, bahkan tercederai, jika kita menoleh pada panggung politik. Kontestasi pemilu legislatif dan Pilpres yang masih 2019 mendatang, namun sumbu api dan suhu panasnya sudah bisa kita rasakan jauh hari sebelum saat ini. 

Tengok saja, dalam sepekan terakhir saja, menjelang dan pascapengumuman pasangan bakal capres dan wapres, sudah banyak preseden retak dan perpecahan elit bangsa. Kita sudah dipertontonkan pernyataan nyinyir, tapi blak-blakan, yang entah untuk kepentingan apa. Sebutan “jenderal kardus”, mahar politik miliaran rupiah, PHP, atau tudingan tidak pro-pemerintah oleh ormas.

Panggung dalam siaran live ILC di TV swasta yang dipandu Karni Ilyas tadi malam, setidaknya bisa menjadi gambaran ancaman perpecahan bangsa mendatang. Begitu membuat banyak pihak meradang dan panas telinga, namun bisa membuka mata publik dan bangsa, jika memang benar adanya.

Cawapres Sandiaga Uno boleh berasumsi, berharap persaingan dalam Pilpres 2019 mendatang tetap sejuk karena kombinasi pasangan calon yang majemuk, bisa mengakomodasi dan mengayomi semua elemen bangsa. Tetapi, membangun negara juga tidak lepas dari niat dan proses, sementara hasil tidak pernah menghianati proses.

Dalam usia NKRI yang memasuki 72 tahun ini, sejatinya Indonesia tengah dihadapkan pada ujian. Menyatukan bangsa begitu mudah ketika menghadapi kekuatan asing di arena olahraga. Sebaliknya, musuh terbesar di era kemerdekaan Indonesia bisa jadi adalah kepentingan kekuasaan dan berkuasa.

Apakah kemerdekaan dan kedaulatan NKRI bisa dibangun dan dipertahankan setidaknya di pentas politik dan bursa kepemimpinan pileg dan pilpres mendatang? Wallahua’lam! (*)

Choirul Amin, founder Media Cendekia
choirulameen@gmail.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like
1 Comment
  1. hermanh2o says

    Setuju. Menyulut rasa nasionalisme tak hanya melalui partai politik yg bahkan kadang lebih kental nuansa kepentingan. Bahkan pada saat inipun masyarakat menganggap partai politik merupakan bagian dari masalah disitegrasi baik parpol pengusung agama ataupun parpol yg mengaku nasionalis.

Leave A Reply

Your email address will not be published.