Beranda KILAS Jadikan Perpustakaan Rumah Kedua

Jadikan Perpustakaan Rumah Kedua

396
0
BERBAGI
perpustakaan anak

perpustakaan anakSejak 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia era Megawati Soekarnoputri mencanangkan pelaksanaan Gerakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Indonesia bersamaan dengan puncak hari anak Nasional. Mulai saat tu, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. Upaya ini telah dilakukan sebagai wujud pembinaan yang ditujukan kepada anak setelah lahir sampai dengan usia enam tahun diberikan rangsangan pendidikan. Tujuannya, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan belajar di sekolah.

Pemerintah juga berkeinginan melalui PAUD dapat tercipta sumber daya manusia yang bermutu. Karena, pendidikan ini merupakan tahapan yang sangat strategis yang harus dilakukan secara bertahap dan sistimatis. PAUD diyakini memegang peranan penting dan penentu bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya. Sebab, merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak dan pendidikan pertama yang menentukan masa depan.

Namun dewasa ini masih banyak anak usia 0-6 tahun yang belum mendapatkan layanan pendidikan anak usia dini. Hal ini disebabkan berbagai kendala, diantaranya masih kurangnya lembaga penyelenggara PAUD, kurangnya jumlah tenaga pendidik maupun kualitas kompetensinya, serta masalah ekonomi.

Masuk PAUD sekarang tidak cukup uang 1 juta rupiah. Bahkan, PAUD yang dibilang favorit malah lebih dari 5 juta rupiah. Itu sudah termasuk biaya pendaftaran, uang pangkal, uang gedung, buku pelajaran dan seragam. Belum lagi ditambah SPP per bulannya saja mulai 200 ribu sampai 500 ribu. Biaya PAUD yang mahal inilah menjadi faktor utama orang tua tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya pada usia dini.

Lain ceritanya, jika kita tengok PAUD Pesantren Rakyat Al Amin Sumberpucung, Kabupaten Malang. Di PAUD ini, untuk mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan PAUD di atas, tidaklah harus dengan biaya pendaftaran yang mahal, SPP tinggi, bangunan megah, dan seragam mentereng. Dengan slogannya yang merakyat dan bermartabat, PAUD Al Amintetap bercita-cita menjadi lembaga pendidikan yang termurah (merakyat) namun bermartabat (berkualitas). Pola pendidikannya, aktivitas dan kultur belajarnya semua didisain ala rakyat.

Akan tetapi, jangan salah, meski bangunannya sederhana, namun sudah cukup memadai. Permainannya pun tidak kurang dari 50 jenis permainan, baik modern atau tradisional. Jumlah gurunya sudah ada 8 orang, dari profesional, sarjana dan satu ahli psikologi. PAUD Pesantren Rakyat menjadi satu-satunya PAUD di kecamatan Sumberpucung yang memiliki ahli Psikologi dan gurunya magister.

Murid-murid PAUD Al Amin diajari memainkan musik gamelan, tari-tari daerah seperti tari kipas, badinding, ngapoteh, dan lain sebagainya. Tempat belajarnya langsung ke lapangan, ketika mengajak anak didikmenggambar gunung, harus keluar melihat pemandangan gunun. Kala belajar ilmu pertanian atau peternakan, anak diajak ke sawah dan kandang ternak, bahkan sampai belajar cara pengoperasian kereta api di stasiun dan ke tempat pendidikan TNI-AD. Inovasi-inovasi pembelajaran inilah yang menjadikan PAUD Pesantren Rakyat Al Amin sering mendapat kunjungan dari berbagai instansi.

Siswa-siswinya sampai sekarang sudah tersebar sampai ke wilayah dusun lain dengan jumlah peserta didik sekitar 45 anak. Meski usianya masih belia, baru meluluskan 2 angkatan. Namun  PAUD Pesantren Rakyat Al-Amin memiliki tujuan yakni mampu menjawab persoalan masyarakat yang sulit memasukkan anaknya ke PAUD karena alasan terkendala dana. Bahkan, PAUD yang didirikan oleh Pesantren Rakyat Al-Amin ini berkeinginan kuat mencetak lulusan yang berkualitas, sehingga harapan ke depannya akan menjadi PAUD percontohan tingkat nasional bahkan internasional.  [*]

PILIHAN REDAKSI:
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here