Digelontor Rp 1,7 Miliar, SMA Terbuka Masih Berharap Bantuan. Ini Sebabnya…

MALANG, inspirasicendekia.com – Saat ini masih banyak anak usia sekolah yang kurang beruntung dan tidak bisa menikmati akses pendidikan jenjang SMA. Sebagai responnya, maka dibuka sekolah terbuka tingkat sma. Namun, penyelenggaraan SMA terbuka selama ini masih dihadapkan pada sejumlah kendala.

DR Praptono MEd, Seksi Program di Direktorat Pembinaan PKLK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus) Kemdikbud mengungkapkan, Sekolah Terbuka merupakan bentuk perluasan akses pendidikan bagi warga yang kesulitan mendapatkan pendidikan reguler. Agar bisa melayani masyarakat dengan baik, layanan pendidikan ini dilakukan dengan membuat simpul-simpul belajar yang bisa menampung sebanyak-banyaknya peserta didik dengan efektif.

Menurutnya, jumlah penyelenggaraan sekolah terbuka sudah banyak. Sekolah terbuka diindukkan dengan sekolah reguler. Dengan penyelenggaraan menyatu dengan sekolah induk, lanjutnya, sebenarnya sekolah terbuka akan lebih baik. Dari aspek kualitas pembelajaran terkontrol, ketersediaan SDM memadai dan sarpras bisa lebih terjamin.

“Hanya saja, model sekolah terbuka dengan sistem pembelajaran jarak jauh masih ada 8 titik di Indonesia. Sekolah terbuka jarak jauh ini diperkuat simpul-simpul dan prasarana pembelajaran berbasis teknologi komunikasi,” kata Praptono di sela-sela acara Lokakarya penguatan Sekolah Terbuka dan Bimbel Pembelajaran Jarak Jauh dan Jambore Peserta Didik PLK/Sekolah Terbuka yang digelar di aula SMAN 1 Kepanjen, Sabtu (30/7/2016).

Ditambahkan, sebenarnya sekolah terbuka masih cukup besar peminatnya. Namun, saat ini sekolah terbuka jarak jauh masih dibatasi dengan kapasitas daya tampung yang berpengaruh pada pembiayaan operasionalnya.

Praptono merinci, unit cost penyelenggaraan sekolah terbuka diantaranya mencakup komponen beasiswa sebesar @ Rp 2 juta per peserta didik.

“Kapasitas per titik SMA terbuka jarak jauh sebenarnya maksimal menampung 200 peserta didik. Kalau terlalu banyak justru juga susah pengelolaannya,” imbuhnya.

Meski demikian, pengelolaan SMA terbuka nantinya diharapkan bisa mandiri. Karena itu pula, Asosiasi Lembaga Penyelenggara PLK Jatim terus mencoba berupaya guna mencari solusi terkait SMA terbuka. Salah satunya melalui digelarnya lokakarya seperti di SMA Negeri 1 Kepanjen. Lokakarya ini berisi penguatan pengelolaan SMA terbuka dan workshop sistem pembelajaran jarak jauh.

“Hasil workshop dari kegiatan lokakarya ini diharapkan mampu menghasilkan solusi dan rekomendasi yang akan disampaikan ke pemerintah pusat. Salah satunya, adalah mengupayakan agar pendidikan SMA terbuka mempunyai lembaga yang jelas dan tidak nebeng ke sekolah lain,” demikiam Maskuri, kepala SMAN 1 Kepanjen.

Ia mengungkapkan, jumlah peserta didik terdaftar dan diterima di SMA terbuka jarak jauh SMAN Kepanjen adalah 387 orang. Jumlah ini tentunya melebihi kapasitas dan harus dipikirkan solusinya. Selama rekrutmen mulai Juni sampai 20 Juli 2016 lalu, pendaftar sebenarnya mencapai 600 orang lebih.

“Kenyataannya yang membutuhkan dan memenuhi syarat jumlah sangat besar. Kami tetap akan mengusulkan kuota tambahan agar masyarakat yang membutuhkan tetap bisa tertampung,” kata Maskuri.

Dikatakan, pihaknya memperoleh bantuan dana operasional penyelenggaraan SMA Terbuka jarak jauh sebesar lebih dari Rp 1 miliar. Selain itu, ada tambahan bantuan alat belajar sebesar Rp 750 juta untuk bantuan pinjaman tablet yang diberikan pada setiap peserta didik selama pembelajaran yang akan dilakukan selama 6 bulan.

Pewarta: Choirul Ameen

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.