Concern Lintas Agama, Aktivis Muda Muhammadiyah Ini Jadi Asisten Stafsus Presiden

Inspirasicendekia.com, MALANG – Muhammadiyah kembali memberi kontribusi bagi negara melalui aktivis mudanya. Kali ini, Pradana Boy ZTF, PhD (41), ditunjuk sebagai Asisten Staf Khusus Presiden RI bidang Keagamaan Internasional.

Diangkatnya alah satu kader muda terbaik Muhammadiyah ini karena Pradana Boy sudah lama berkiprah dalam aktivitas perdamaian dan toleransi beragama dalam beberapa kali kesempatan forum internasional. Boy sendiri adalah dosen Fakultas Agama Islam dan Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pengangkatan Pradana Boy dituangkan dalam Keputusan Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2018. SK ini ditandatangani Sekretaris Kabinet Pramono Anung pada 29 Juni 2018. 

Sebelum diangkat sebagai Asisten Staf Khusus Presiden ini, Pradana Boy sudah banyak terlibat dalam berbagai seminar internasional dan menjadi pemateri terkait religion peace dan toleransi beragama. Pengalaman ini semenjak dirinya menjadi peserta program beasiswa kuliah di Australian National University (ANU), Canberra program Master of Arts dan National University of Singapore untuk meraih gelar PhD beberapa tahun lalu.

Tanggal 3 April 2017, adalah salah satu pertemuan dan training International Fellow in Interreligious Dialogue di Kuala Lumpur Malaysia yang pernah diikuti Pradana Boy. Ini adalah forum lanjutan program fellowship King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) yang berpusat di Wina, Austria, setelah pertemuan pertama di Wina, Austria, beberapa bulan sebelumnya. Pada waktu hampir bersamaan, yakni pada 4 April, Pradana menjadi pembicara mendampingi dua guru besar dari King Abdulaziz University Arab Saudi, yang hadir di UMM untuk memberikan kuliah tamu. 

Pada acara ini, peserta juga lebih banyak melakukan kunjungan lokasi (site visit) tentang keragaman agama di Malaysia. Dikatakan, tempat yang dikunjungi pertama kali adalah kompleks kuil Hindu di Batu Caves, di distrik Gombak di luar kota Kuala Lumpur. Konon, Batu Caves adalah nama sebuah gua batu kapur yang saat ini dijadikan sebagai kompleks kuil umat Hindu. 

Selama kunjungan ini, Pradana Boy mendapati contoh penghormatan penganut Budhisme dan Hinduisme pada pemimpinnya. Dalam benaknya kala itu. Islam juga memiliki doktrin penghormatan yang sama. Lalu mengapa di Indonesia belakangan ini terjadi gelombang sebaliknya? Tidak sedikit pemimpin agama yang dicaci maki oleh umatnya sendiri. Kira-kira apa sebabnya? 

Sementara ia berkesimpulan, sesungguhnya tidak ada umat beragama yang tidak hormat kepada pemimpinnya. Hanya saja, ketika para pemimpin agama telah bertindak tidak sesuai dengan fungsi kepemimpinannya, mengkhianati hati nurani rakyat, berpihak kepada kepentingan tertentu dan bukan kepada kebenaran; barangkali saat itulah rasa hormat umat pada pemimpinnya mulai hilang.

Berdasarkan pengalaman yang ditemui, Boy juga berpandangan, ternyata dalam semua agama terdapat ajaran filantropisme. Hanya saja, wujud ajaran itu barangkali berbeda-beda. Jika salah satu wujud filantropisme dalam Hinduisme dan Budhisme adalah memberi makan gratis kepada para biksu; dalam Islam filantropi lebih luas. Islam mengajarkan memberi makan kepada orang yang lapar, baik karena kemiskinan maupun kekurangan. Islam mengajarkan zakat, infaq dan sedekah, serta janji balasan berlipat-lipat yang akan diberikan oleh Allah kepada para dermawan.

Waktu masih menjadi mahasiswa semester lima Jurusan Syariah, Fakultas Agama Islam UMM, Boy mengaku mulai belajar membaca teks-teks berbahasa Inggris. Hal itu lalu mengantarkannya pada disertasi Cak Nur (almarhum Prof Nurcholish Madjid) tentang filsafat dan kalam dalam pandangan Ibn Taimiyyah. Belum lagi, mendapati disertasi lainnya karya Profesor Din Syamsuddin tentang politik alokatif di Muhammadiyah. 

Buku-buku ini tertulis dalam bahasa Inggris setebal ratusan halaman dengan tema-temanya sangat berat, sementara penulisnya orang Indonesia. Dan, inilah yang kian memantik obsesinya untuk melanjutkan studi di kampus luar negeri yang diimpikannya. 

“Perenungan atas karya disertasi kedua tokoh intelektual Muslim terkemuka di Indonesia itulah yang kian melahirkan dorongan spiritual dalam diri saya untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri,” pungkasnya. [amin]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.