Beranda BUDAYA Cerita Panji, Sastra Jawa yang Terserak dan Tak Bertuan

Cerita Panji, Sastra Jawa yang Terserak dan Tak Bertuan

479
0
BERBAGI
Cerita Panji, Sastra Jawa yang Terserak dan Tak Bertuan

Cerita Panji menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Tak sekadar bacaan cerita rakyat, pemaknaan Cerita Panji sudah sedemikian luasnya dan bisa disajikan dalam berbagai kemasan.

Cerita Panji bahkan sudah merambah hingga manca negara.Setidaknya, kenyataan ini lah yang mengemuka dalam acara bedah buku dan launching buku berjudul ‘Memahami Budaya Panji’ oleh budayawan Henry Nurcahyo, yang digelar di Semeru Art Gallery Jalan Semeru, belum lama ini. Dalam bedah buku tersebut, Henry Nurcahyo menceritakan, yang menarik dari cerita Panji adalah tidak diketahui siapa pengarangnya. Namun, katanya, cerita ini sudah menyebar ke seluruh Nusantara dalam berbagai versi. Menurut pria kelahiran Lamongan ini, Cerita Panji merupakan sastra klasik berasal dari Jawa Timur, bersumber dari Kerajaan Kediri dan Jenggala yang tersebar hingga ke Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Saking kentalnya dengan nilai budaya dan tradisi jaman dahulu, Cerita Panji pun sangat menarik dan banyak dipentaskan. Dalam acara seni pertunjukan, cerita ini terdapat dalam bentuk dongeng, tari, naskah, dan relief. Contohnya, dongeng Ande-Ande Lumut, relief pada Candi Panataran di Blitar, dan Tari Reog.

Ratusan versi Cerita Panji pun banyak ditemukan dimana-mana. Menurut Hendry Nurcahyo, sebagian diantaranya adalah 80 naskah cerita Panji yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional. Bahkan, terdapat 200 naskah yang juga disimpan di Belanda.

Dikatakan, cerita Panji menjadi begitu populer pada saat zaman Kerajaan Majapahit. Pada saat itu, Raja Hayam Wuruk mengajak rakyat untuk mempopulerkan cerita Panji sebagai bentuk perlawanan budaya. Karena, katanya, pada saat itu Indonesia sudah mulai dimasuki budaya yang berbau barat.

Saat ini, kata Henry, cerita Panji banyak dibicarakan oleh masyarakat awam dan di kalangan terpelajar. Ironisnya, lanjutnya, di Thailand cerita Panji malah menjadi bahan bacaan anak-anak sekolah. Mereka menyebutnya cerita Inao atau Eynao.

Dengan dipopulerkannya buku ini, Henry berharap masyarakat awam memahami dari tingkat paling dasar mengenai cerita dan budaya Panji.

”Masyarakat juga harus tahu bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat kaya,” demikian Henry. Dilansir dari laman kimarela.com, Cerita Panji juga banyak dipentaskan dalam bentuk Tari Topeng, tarian yang penarinya mengenakan topeng. Cerita klasik seperti Ramayana dan cerita Panji yang berkembang sejak ratusan tahun lalu kemudian menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendratari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut.

Topeng Malang misalnya, merupakan kesenian tari topeng dari daerah Malang, Jawa Timur. Kisah yang dibawakan biasanya berasal dari kisah Panji yang menceritakan kisah percintaan Raden Panji Asmoro Bangun (Inu Kertapati) dengan Putri Sekartaji (Chandra Kirana).

Pewarta: Choirul Ameen

PILIHAN REDAKSI:
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here