Beranda LITERASI ‘Cahaya Dari Timur’, Potret Kisah Nyata Toleransi

‘Cahaya Dari Timur’, Potret Kisah Nyata Toleransi

310
0
BERBAGI
Cahaya-Dari-Timur

Kata toleransi yang kerap kita dengar, bukan tanpa makna. Semangat toleransi bisa diwujudkan menjadi sikap dan tindakan dalam memaknai perbedaan secara luas, di negara yang memiliki keragaman budaya dan religi.

Demikian intisari dari diskusi bedah film “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku” di salah satu kedai di Jalan Jakarta, Kota Malang, Rabu (18/11/2015) malam. Diskusi dan acara nonton bersama ini diselenggarakan oleh Komunitas Gusdurian Malang, berkaitan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November 2015.

Berbagai respon terhadap film terbaik FFI 2014 ini mengemuka dalam diskusi yang dikemas dalam suasana santai. Tatok, salah satu peserta diskusi, mengatakan dirinya bisa mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Dia mengamati tokoh seorang ibu dalam film yang cerewet namun bertujuan baik. Dia mengambil pelajaran bahwa memperjuangkan kebaikan dan nilai-nilai positif bagi kehidupan manusia, harus berani dan dilakukan secara terus menerus.

Tatok juga mencermati adanya investigasi budaya yang muncul dalam film berdurasi 150 menit ini. Ada adegan dalam film, memperolok-olok teman sendiri saat berada di dalam kelas. “Ini budaya yang keliru, berpotensi menimbulkan konflik,” ujarnya.

Makanya, Tatok menekankan pentingnya membangun kepekaan atau sensitivitas terhadap kebiasaan atau budaya agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Perlu membangun kebiasaan. Toleransi membutuhkan sensitivitas,” ucapnya.

Terkait pesan yang disampaikan film, Daniel Sihombing selaku narasumber, mengatakan bahwa setiap orang dapat berperan menjadi agen toleransi dan perdamaian, tanpa memandang status sosialnya. Daniel melihat sosok Sani, tokoh utama dalam film, menjadi agen perdamaian melalui sepak bola. Pekerjaan sebagai tukang ojek dengan pengalamannya menjadi pesepak bola, membawa Sani memilih ‘jalan pinggir’, untuk menyelamatkan anak-anak dari konflik agama melalui sepak bola.

“Sani tidak memilih berselisih soal keyakinan atau turut larut dalam konflik yang terjadi. Dia gunakan sepakbola sebagai alat untuk memperjuangkan perdamaian,” ujar Daniel menjabarkan tokoh Sani yang diperankan oleh artis muda, Chiko Jerrico.

Dengan segala kelemahan dan keterbatasan, setiap manusia dapat berkontribusi bagi perwujudan toleransi dan perdamaian. Daniel berharap, toleransi bisa dibangun dari lingkungan terkecil seperti keluarga.

“Semangat toleransi harus dikongkretkan dalam perilaku dan tindakan nyata,” ucap pria yang kini menempuh program doktor (S-3) di Belanda ini.

Film yang diproduksi selama empat tahun ini, mengambil latar belakang kehidupan sosial budaya di Maluku. Cahaya Dari Timur berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik dalam ajang FFI (Festival Film Indonesia) 2014. Film yang menggunakan dialek Ambon ini, sengaja penonton belajar tentang toleransi.

Dalam peringatan Hari Toleransi Internasional, 16 November 2015, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengatakan bahwa toleransi membawa kewajiban untuk bertindak dan harus diajarkan, dipelihara serta dipertahankan. (rul)

Print
PILIHAN REDAKSI:
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here