Beranda KOLOM Belajar Menjadi Jurnalis dalam Aksi Pelajar untuk Kebhinekaan. Seperti Apa?

Belajar Menjadi Jurnalis dalam Aksi Pelajar untuk Kebhinekaan. Seperti Apa?

65
0
BERBAGI

SURABAYA – Acara Aksi Kebhinekaan Pelajar Surabaya menjadi ajang yang sarat pengenalan tentang jurnalisme kebhinekaan dan pembuatan video kreatif, Jumat-Sabtu (22-23/9). Kegiatan yang digelar bersama Maarif Institute dan Cameo Project ini banyak menghadirkan tokoh dan praktisi jurnalistik dan sosial media.

Sedikitnya 200 pelajar SMA/SMK se Jawa Timur mengikuti acara yang digelar di Coworking Space Koridor, Gedung Siola Lt.3 Jalan Tunjungan Surabaya ini. Khelmy K. Pribadi (Direktur Program) dan Perwakilan dari Google Indonesia, Ryan dan sejumlah tokoh menjadi narasumber acara yang dikemas dalam talkshow ini. Diantaranya, Ahmad Imam Mujadid Rais (Direktur Riset MAARIF Institute), Dhimas Ginanjar (Pemred Jawapos.com) dan Gamelawan, YouTube Creator.

Dhimas Ginanjar selaku pemimpin redaksi Jawapos.com misalnya, memberikan banyak materi bermakna tentang Dunia Jurnalistik. Ia mengungkapkan bahwa Jurnalis itu sangat mengasyikkan dan ia mengajak peserta menulis layaknya seorang jurnalis.

Pemred Jawapos.com yang ternyata adalah penyuka JKT48, sangat getol dalam menjelaskan dunia Jurnalis. Menurutnya, menjadi wartawan bisa dimulai dari apa yang kita suka. Sebagai contoh, Dhimas selaku fans JKT48 juga menjadi penulis buku Fanfic JKT48.

Dan selain itu, lanjutnya, mempunyai minat yang kuat dengan pengetahuan yang mumpuni juga dapat menjadi bekal sebagai wartawan. Karena sebagai seorang wartawan, harus pintar bertanya kepada narasumber.

“Ada contoh kasus narasumber yang malah balik bertanya kepada sang wartawan dikarenakan pewarta kurang pengetahuan. Jangan sampai ini terjadi. Intinya, pengetahuan itu penting,” lanjutnya.

Tak terkecuali, dalam sebuah berita, menurut Dhimas yang penting adalah foto. Karena foto adalah pelengkap berita jika tulisan tak mampu menjelaskan banyak hal.

“Konfirmasi, konfirmasi dan konfirmasi. Data adalah kekuatan tulisan. Deskripsi adalah nyawa tulisan,” tegasnya Dhimas pada siswa-siswi SMA/SMK se-Jatim itu.

Karena pastinya, menulis sebuah berita bukan berasal dari opini. Melainkan dari data yang diperoleh dari barasumber yang bersangkutan dengan topik tertentu.

Dan di akhir sesinya, ia membicarakan tahap-tahap pekerjaan jurnalistik yang harus dilakukan wartawan. Yaitu, tentukan apa yang ingin ditulis, siapa narasumbernya, berangkat liputan (TKP) dan bertanya dimulai dari 5W+1H (What, Who, Where, When, Why and How). (*)

Penulis: Sevilla Elza Azzahra, Teenager Journalist SMK Mutu

PILIHAN REDAKSI:
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here