Belajar Energi Terbarukan di Perancis, Ini Pengalaman Alumni SMK Mutu (Bagian 1)

Inspirasicendekia.com, MALANG – Eforia perayaan kemenangan Perancis menjuarai Piala Dunia 2018 tak bisa dinikmatinya. Namun, pengalaman berharga tinggal di negara ini selama hampir tiga tahun begitu bernilai bagi pemuda ini. Siapa dia?

Adalah Mario Andrianto (21), alumni SMK Muhammadiyah 7 (SMK Mutu) Gondanglegi Kabupaten Malang. Pemuda anak buruh tani asal Dusun Ngelak Dampit ini menjadi pelajar Indonesia yang mendapatkan kesempatan dan beasiswa pendidikan program D2 BTS (Brevet de Technicien Superieur) jurusan Maintenance des systemes option Eolien di Lycee Guy de Maupassant di kota Fecamp, Perancis.

Kesempatan kuliah di luar negeri ini tepatnya dijalani Mario sejak 2015 lalu. Selain dirinya, totalnya ada 8 (delapan) siswa dari Indonesia yang lolos seleksi dan hanya dirinya yang mengambil jurusan sistem perawatan turbin di salah satu kampus di negara Menara Eiffel ini.

“Selesai kuliah D2 BTS, Saya langsung melanjutkan program S1 Licence Professionnelle SERA (Systemes a Energie Renouvelables et Alternatif) di sana,” terang Mario Andrianto, di sela mengunjungi almamaternya SMK Mutu, Rabu (18/7) siang.

Dikatakan, awal kesempatanya terjadi pada Maret 2015 silam, setelah mendapatkan undangan dari Direktorat Pembinaan SMK Kemdikbud RI sebagai kandidat calon peserta program beasiswa D2 BTS. Ia pun harus menjalani seleksi dua tahap, di Indonesia dan langsung di Perancis.

Mario berkisah, awalnya untuk bisa ke Perancis, maka harus disiapkan setidaknya Rp 25 juta untuk akodomasi tiket perjalanan. Sang Ibu, waktu itu sempat melarang dengan alasan kondisi ekonomi keluarga. Namun, pihak sekolah tetap mencoba membantu dan mendaftarkannya.

Akhirnya, orang tua berupaya pinjam Rp 10 juta dari kerabatnya, dan hasil pinjam-jual seekor sapi dan laku Rp 13,5 juta. Sempat ada perubahan kebijakan pemerintah Perancis, yang menanggung akomodasi perjalanan pelajar Indonesia. Sebaliknya, calon mahasiswa harus menanggung sendiri biaya hidup sebesar 600 euro per bulan atau sekitar 9 juta rupiah per bulan selama di Perancis.

“Didukung keluarga dan sekolah, saya memutuskan tetap berangkat. Motivasi kuat saya ingin belajar perkembangan teknologi, khususnya energi terbarukan. Program BTS ini masih pertama kali dan satu-satunya dibuka bagi pelajar Indonesia,” kata alumni lulusan jurusan Teknik Sepeda Motor ini.

Berbekal les bahasa Perancis hanya selama 1,5 bulan, sekitar satu semester pertama Mario merasa seperti orang gila di negeri ini. Pelajaran di kelas BTE yang diikutinya juga full menggunakan bahasa Perancis. Ia pun mengaku memiliki pemahaman terbatas materi kuliah yang diterimanya.

“Saya tekun belajar sendiri soal kosakata dan translate di rumah kontrakan tiap malam selama empat sampai 12 malam. Empat bulan berjalan, baru bisa sedikit bicara bahasa Perancis,” kenangnya.

September mendatang, Mario harus menjalani ujian kelulusan kuliah S1 Licence Professionnelle SERA. Saat ini, ia sedang menyelesaikan tugas akhir dan menjalani magang kerja tahun ketiga di B2TKE-BPPT Serpong. Sebelumnya, magang diajalani di perusahaan CMI grup Perancis yang tempatnya jauh dari permukiman dan di Bantul Jawa Tengah, yakni di PLT Hybrid di tahun pertama.

Kuliah S1 Licence Professionnelle SERA ini, Mario tetap mempelajari turbin angin, ditambahi solar cell. Tidak semata belajar memproduksi sumber energi terbarukan, ia melainkan juga belajar bagaimana memasarkan. Termasuk tentang legal formal, komersial dan akuntansi.

“Selama magang kerja di perusahaan pembangkit tenaga turbin di Perancis, sistem safety sangat baik dibanding di Indonesia. Angka kecelakaan kerja minim, karena disana tidak bisa dipaksakan waktu dan sisa tenaga melebihi jam kerja,” pungkasnya. [ameen]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.